You Are Here: Home» Kesehatan » Deteksi Dini Kurangi Resiko Kematian Penderita Kanker

Deteksi Dini Kurangi Resiko Kematian Penderita Kanker
KapanLagi.com - Deteksi dini atau pemeriksaan awal dapat mengurangi risiko peningkatan progresivitas dan pertumbuhan sel kanker dalam tubuh sehingga ancaman mortalitas (kematian) dapat dihindari lebih awal.
"Sangat penting terutama bagi perempuan untuk melakukan tes pap atau pap smear untuk mengetahui ada tidaknya sel kanker di leher rahim," kata ahli kebidanan Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, dr Teti Ernawati, di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan tes pap merupakan upaya deteksi dini kanker mulut rahim sehingga jika ditemukan sel abnormal dalam tubuh dapat ditangani lebih awal.
"Semakin awal diketahui untuk mengatasinya semakin mudah. Karena kalau sudah stadium lanjut upaya penyembuhannya sangat sulit," katanya.
Tes pap merupakan prosedur medis berupa skrining dengan cara mengambil sampel sel-sel dari mulut rahim (serviks) dan menyebarkannya di atas gelas obyek serta memeriksanya di bawah lensa okuler mikroskop.
"Dari situ dapat diketahui sel dalam serviks normal atau justru abnormal menuju prekanker dan kanker," katanya.
Ia mengatakan, kanker mulut rahim menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker payudara bagi perempuan Indonesia.
Padahal, penyakit itu merupakan salah satu kanker yang dapat dicegah dan dihambat pertumbuhannya, katanya.
Fakta menunjukkan, di beberapa negara maju, misalnya Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, kasus kanker mulut rahim stadium lanjut hampir tidak pernah ditemui. Hal itu karena mereka telah sadar untuk melakukan tes pap dan pencegahan lebih awal, katanya.
"Sementara kasus kanker serviks di Indonesia lebih sering dijumpai saat penyakit telah memasuki stadium lanjut," katanya.
Menurut dia, tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan tindakan preventif terhadap kanker serviks dengan melakukan tes pap masih sangat rendah.
Kanker serviks menyerang alat kandungan perempuan, berawal dari mulut rahim dan berisiko menyebar ke vagina hingga keluar di permukaan.
Selain itu berisiko menyebar ke organ lain di dalam tubuh, misalnya uterus, ovarium, tuba fallopi, ginjal, paru-paru, lever, tulang hingga otak.
"Penderita stadium lanjut umumnya harus mengangkat organ alat kandungan dan kemungkinan mempunyai anak menjadi tidak mungkin," katanya.
Di dunia, terdapat sekitar 100 jenis strain virus penyebab kanker serviks, yaitu virus HPV (Human Papilloma Virus). Dan strain terganas adalah tipe 16 dan 18.
Karena itu,tes pap perlu dilakukan sebagi tindakan preventif. Menurut American Cancer Society (2004), tes pap idealnya dilakukan tiga tahun setelah kontak seksual pertama dan selanjutnya secara rutin setiap dua tahun sekali.
Kanker serviks dapat menyerang siapa saja, terutama perokok aktif, pengkonsumsi pil KB, orang yang asupan vitamin A dan C-nya serta asam folatnya kurang, dan pelaku seks bebas yang sering gonta-ganti pasangan.
Gejala yang sering muncul pada penderita biasanya timbulnya keputihan yang berbau dan berulang-ulang serta terjadi pendarahan di bagian kemaluan saat tidak sedang haid.
Teti mengatakan, risiko terjadinya kanker serviks makin tinggi bagi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Dengan begitu, mereka dianjurkan untuk melakukan tes pap dengan rentang waktu lebih cepat, yaitu satu hingga tiga bulan sekali untuk mengurangi risiko kematian.
Tes pap merupakan salah satu metode skrining yang sederhana, cepat, tidak menyakitkan, dan murah biayanya.
"Jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukan tes pap. Tes ini juga dapat dilakukan di rumah sakit mana pun di seluruh Indonesia," katanya. (*/rit)

Tags: Kesehatan