You Are Here: Home» Budaya , lingkungan , Pendidikan » Kenikmatan dan Kesenangan Menuju Kehancuran

Kenikmatan dan Kesenangan Menuju Kehancuran
Pepatah mengatakan “hidup dalam penderitaan, mati dalam kedamaian”. Dari zaman dahulu hingga sekarang, hidup yang begitu enak dan nyaman pernah mengubur sejumlah besar nyawa yang seharusnya berprestasi di dunia. Semasa musim semi dan gugur, ahli ramal dari negeri Qi yakni Guanzhong pernah memberi nasehat pada Qi Huangong, “Suka berfoya-foya dan bermalas malasan, tidak boleh bersemayam di hati.“ Dalam pandangan orang dahulu, mencari kenikmatan dan kesenangan lebih berbahaya daripada arak beracun, sebab ia dapat menghancurkan hidup seseorang. Dan di masyarakat modern yang moralnya merosot, masih saja banyak orang yang tidak menghargai waktu, selalu membiarkan hasrat kenikmatan materiil, mengejar kehidupan asusila tak terbatas dan tanpa tujuan seperti mimpi atau mabuk, dan perlahan-lahan tanpa disadari menuju kehancuran.
Menurut cerita turun temurun, pada zaman dahulu di Tiongkok, di sebuah danau besar sebelah utara terdapat sebuah pulau kecil, di pulau itu hiduplah seorang nelayan tua bersama istrinya. Hari-hari biasa, si nelayan tua mendayung perahunya ke danau untuk menangkap ikan, dan di atas pulau itu, istrinya memelihara ayam dan bebek, selain membeli keperluan untuk kebutuhan hidup, mereka jarang bergaul dan berhubungan dengan dunia luar. Pada suatu ketika di musim gugur, sekumpulan angsa tiba di pulau itu. Mereka terbang dari utara yang sangat jauh dan tiba di pulau tersebut, dan bersiap untuk terbang ke selatan melewati musim dingin. Suami-istri tampak sangat gembira melihat sekumpulan tamu dari jauh ini. Sebab selama sekian lama mereka menetap di pulau itu, belum pernah ada siapa pun yang datang mengunjungi mereka.
Untuk menyatakan kegembiraan mereka, suami-istri nelayan tersebut menjamu angsa-angsa itu dengan mengeluarkan makanan ternak ayam dan ikan tangkapannya. Selanjutnya, sekelompok angsa itu perlahan-lahan mulai akrab dengan pasangan suami-istri ini. Di atas pulau itu, mereka tidak saja mondar mandir dengan sesukanya, bahkan saat nelayan tua itu menangkap ikan, mereka mengikuti perahu itu, bersenang-senang dan gembira.
Musim dingin tiba, gerombolan angsa ini ternyata tidak melanjutkan penerbangannya ke selatan, malamnya, mereka bertengger di pulau itu. Permukaan telaga tertutup beku, dan mereka tidak bisa lagi mendapatkan makanan, suami-istri itu membuka gubuk mereka dan menyuruh mereka masuk untuk menghangatkan badan, dan memberi mereka makanan. Perhatian dan perlakuan demikian terus berlangsung hingga musim semi tiba, dan permukaan telaga cair kembali. Hari demi hari, tahun demi tahun. Setiap tahun di musim dingin, suami-istri ini selalu tidak bosan-bosannya memelihara sekumpulan angsa tersebut. Akhirnya pada suatu hari, mereka pun mulai senja dan meninggal dunia. Dan si angsa juga menghilang sejak itu, tapi, mereka tidak terbang ke selatan, melainkan mati kelaparan pada musim dingin kedua ketika permukaan telaga menjadi beku.
Seseorang yang tidak mempunyai semangat untuk berusaha, atau mungkin seorang yang kultivasi telah hilang semangatnya, juga akan sama seperti angsa-angsa dalam cerita ini. Meskipun secara permukaan hidup tanpa penderitaan, enak dan nyaman, namun, tidak lama dikemudian hari tersandung bahaya hidup yang besar. Orang zaman dulu mengatakan “Orang yang tidak mempunyai pertimbangan jangka panjang, pasti ada kecemasan di depan mata.” Menghargai waktu berarti menyayangi hidup, bagi yang hanya mencari kesenangan semata, akhir yang tragis dari kumpulan angsa itu cukup untuk menjadikannya sebagai pelajaran bagi kita semua.




Tags: Budaya , lingkungan , Pendidikan

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.