You Are Here: Home» Kesehatan » Minum Kopi Dalam Jumlah Sedang Tak Tingkatkan Resiko Keguguran

Minum Kopi Dalam Jumlah Sedang Tak Tingkatkan Resiko Keguguran
KapanLagi.com - Minum kopi dalam jumlah sedang selama kehamilan tak meningkatkan kemungkinan seorang perempuan keguguran, demikian hasil jajak pendapat baru.
"Berdasarkan apa yang telah kami saksikan, itu bukan alasan bagi keprihatinan besar," kata Dr. David A. Savitz dari Mount Sinai School of Medicine di Kota New York, penulis pertama studi tersebut. Ia menyatakan penelitian pada masa lalu telah memberikan hasil "yang sama meyakinkan kembali".
Tetapi karena perempuan dalam studi itu mengkonsumsi jumlah kafein yang relatif sedikit --sama dengan kurang dari dua gelas kopi per hai pada awal kehamilan dan makin sedikitnya setelahnya-- studi tersebut tak dapat menjawab pertanyaan apakah mengkonsumsi lebih banyak dapat berbahaya, katanya.
Studi Savitz unik karena sebagian perempuan melaporkan konsumsi kafein mereka sebelum kehamilan, sementara yang lain melaporkan mengkonsumsinya dalam waktu 8 hingga 12 pekan pertama, katanya.
"Ada keuntungan dalam menanyakan sangat dini, ketika orang dapat mengingat lebih tepat," katanya.
Ia dan timnya menelusuri 2.407 perempuan hamil, 258 di antara mereka keguguran. Semua perempuan itu melaporkan konsumsi kafein mereka sebelum mereka hamil; 4 pekan setelah masa menstruasi terakhir mereka; dan saat wawancara berlangsung.
Sebagian besar perempuan dalam studi tersebut yang minum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein mengkonsumsi sebanyak 350 miligram kafein per hari sebelum mereka hamil dan pada masa awal kehamilan, setara dengan 1,7-7 cangkir kopi sangrai per hari.
Pada saat wawancara, konsumsi rata-rata kafein mereka telah turun jadi 200 miligram.
Pada masing-masing tiga tahap waktu yang dinilai, tak ada hubungan penting statistik antara jumlah kafein yang dikonsumsi seorang perempuan dan resiko keguguran mereka.
"Data itu memberi bukti untuk menyatakan bahwa, dalam rentang lebih rendah yang dikaji, konsumsi kafein tak berhubungan dengan resiko keguguran," demikian kesimpulan Savitz dan rekannya. (*/lpk)

Tags: Kesehatan