You Are Here: Home» Kesehatan » Pasca Angioplasti Koroner, Pembuluh Darah Bisa Tersumbat Kembali

Pasca Angioplasti Koroner, Pembuluh Darah Bisa Tersumbat Kembali
KapanLagi.com - Penderita penyakit jantung koroner yang telah menjalani terapi angioplasti koroner (tindakan intervensi untuk melebarkan penyempitan atau pembuluh darah koroner) layak mewaspadai terjadinya penyumbatan kembali pembuluh darah tersebut.
"Meski angkanya dapat dikatakan kecil, tetapi berdasarkan statistik ada kemungkinan terjadi penyumbatan atau penyempitan kembali," kata pakar kardiologi, Dr Utojo Lubiantoro, SpJP.
Angioplasti koroner secara teknis dilakukan dengan memasang balon atau stent (cincin penyangga) yang dipergunakan untuk memperlebar pembuluh darah yang tersumbat, dengan memasukkan kateter lewat pembuluh darah di liputan paha atau tangan.
Utojo mengungkapkan, tingkat kemungkinan kembalinya penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah setelah angioplasti koroner adalah antara 5-10%. Penyebab dari terjadinya penyumbatan kembali antara lain juga disebabkan oleh kualitas dari balon atau stent yang dipergunakan untuk memperlebar pembuluh darah yang tersumbat.
Utojo memaparkan, pasien yang akan melakukan angioplasti koroner akan dilakukan pemeriksaan secara lengkap dan menyeluruh untuk mengetahui pula keadaan organ lainnya di dalam tubuh orang tersebut.
Setelah melakukan angioplasti koroner, maka salah satu yang patut diperhatikan adalah mencegah proses penyempitan kembali yang kemungkinan dapat terjadi di pembuluh darah lainnya, antara lain dengan meminum obat untuk mengencerkan darah.
Utojo mengemukakan bahwa olahragawan atau orang yang kerap menjalani aktivitas olah fisik tidak tertutup kemungkinan untuk terkena penyakit jantung koroner.
"Olah raga akan membuat tubuh lebih sehat, tetapi bukan berarti orang yang sering berolah raga akan terbebas dari penyakit jantung koroner," katanya.
Utojo juga mengingatkan, fenomena jantung yang berdebar-debar tidak selalu berkaitan dengan adanya sesuatu yang tidak beres dengan keadaan fisik organ jantung.
Namun, hal tersebut juga berkaitan dengan keadaan mental atau psikologis. Misalnya, orang yang mudah ditakuti-takuti memiliki jantung yang akan lebih mudah berdebar dibandingkan orang yang sukar ditakut-takuti.
"Ini karena jantung merupakan organ yang paling cepat bereaksi terhadap perubahan emosi kita," ujar dia. (*/cax)

Tags: Kesehatan