You Are Here: Home» » Bekerja sebagai buruh dan berpenghasilan rendah

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Mencari rizki dengan cara menjual tenaga di tempat-tempat tertentu disebut buruh. Maka muncullah istilah buruh pabrik, buruh tani, buruh perkebunan, dan seterusnya. Di tempat lain penjual tenaga seperti itu disebut kuli. Maka kemudian juga muncul istilah kuli pasar, kuli bangunan, kuli kapal, dan lain-lain. Istilah-istilah lain serupa itu kiranya masih ada, sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat menyebutnya.



Pekerjaan sebagai buruh atau kuli, bagi siapapun bukan pilihan ideal. Mereka bekerja di tempat itu oleh karena tidak ada pilihan lain yang bisa diperoleh, yang lebih bergengsi dan bergaji tinggi. Bekerja sebagai buruh biasanya tidak memerlukan persyaratan pendidikan yang tinggi, hanya dibutuhkan ketrampilan dari hasil latihan atau pengalaman. Oleh karena itu, setiap orang bisa menjadi buruh asalkan mau bekerja keras dengan imbalan, yang biasanya tidak terlalu tinggi.



Menyangkut persoalan gaji dan kesejahteraan buruh yang biasanya tidak terlalu tinggi itu seringkali memunculkan persoalan yang tidak mudah diselesaikan. Demonstrasi, unjuk rasa, pemogokan yang dilakukan oleh buruh adalah cara yang bisa dilakukan untuk menuntut haknya, agar gajinya dinaikkan atau diberikan tunjangan lainnya. Konflik antara buruh dan majikan, biasanya terjadi, karena dipicu oleh upah yang terbatas.



Sebaliknya, majikan tidak selalu mudah menaikkan upah oleh karena harus menjaga keberlangsungan perusahaan. Upah buruh tidak akan dinaikkan jika hal itu akan menganggu kehidupan perusahaan. Atau, tuntutan buruh tidak akan dikabulkan manakala akan merugikan perusahaan. Namun untuk melindungi hak buruh, pemerintah menentukan upah minimal di daerahnya masing-masing. Itulah sebabnya, kadangkala tuntutan kenaikan upah buruh juga ditujukan kepada pemerintah.



Posisi buruh di tengah-tengah masyarakat dipandang rendah. Namun lebih tinggi daripada pengangguran. Orang menganggur berkonotasi sebagai pemalas, tidak mau berusaha, atau tidak ada orang lagi yang mau menggunakan tenaganya, sementara yang bersangkutan belum bisa mandiri. Oleh karena itu, status sebagai buruh adalah sebagai pilihan daripada menganggur. Rendahnya gaji atau imbalan itulah sebenarnya, yang menjadikan buruh dipandang tidak bergengsi. Pandangan seperti itu sebagai konsekuensi dari masyarakat yang melihat seseorang hanya dari harta kekayaan yang berhasil dikuasai.



Islam dalam melihat seseorang bukan dari jenis pekerjaan, jumlah penghasilan, tinggi atau rendahnya jabatan, melainkan dari kualitas keimanan, ketaqwaan, dan akhlaknya. Apapun pekerjaan dan berapapun penghasilannya, asalkan halal, akan dipandang mulia manakala seseorang itu mampu menjaga ketaqwaannya, keimanan dan akhlaknya. Seorang pejabat dan berpendidikan tinggi, tetapi tidak amanah dan melakukan korupsi misalnya, akan dipandang jauh lebih rendah dari buruh tani yang berpendapatan seadanya.



Islam dalam melihat kualitas manusia bukan semata-mata dari jumlah penghasilan yang diperoleh pada setiap bulan, melainkan dari akhlak yang ditampakkan sehari-hari. Orang yang berakhlak mulia akan dipandang lebih terhormat dan dianggap berkualitas secara kemanusiaan dari para pejabat tinggi yang sehari-hari menyimpangkan uang rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri.



Bekerja sebagai buruh dan berpenghasilan rendah, menurut pandangan Islam, justru lebih berkualitas dibanding sebagai pejabat atau majikan yang tidak menunaikan amanah yang diembannya. Namun, jika bisa memilih, maka pilihan ideal itu adalah menjadi pejabat atau majikan yang adil, amanah, dan berakhlakul karimah. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.