You Are Here: Home» Pendidikan » Berbekalkan ilmu yang dikuasai dan dicintai


Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.
-
 
Anak-anak sejak kecil, mulai dari SD, SMP, SMA dan berlanjut di perguruan tinggi  sudah diajari ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora.  Ilmu alam terdiri atas fisika, biologi, kimnia dan ditambah dengan mjatematika. Berangkat dari ilmu dasar ini, maka selanjutnya dikembangkan ilmu lain yang bersifat terapan seperti ilmu  kedokteran, teknik, ilmu kelautan, ilmu pertanian, ilmu peternakan dan seterusnya.

Sedangkan ilmu sosial terdiri atas psikologi, sosiologi, sejarah,  dan antropologi.  Berdasar ilmu murini ini pula dikembangkan ilmu lain yang bersifat terapan, yaitu di antaranya ilmu huklum, ilmu pendidikanb, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu manajemen, akuntansi, perdagangan dan lain-lain.  Adapun ilmu humaniora terdiri atas filsafat, bahasa dan sastra  serta  seni.

Berbagai jenis ilmu pengetahuan tersebut diajarkan kepada para siswa,  agar mereka paham dan mencintainya. Anak-anak agar mencintai alam, maka mereka diajari ilmu alam, demikian pula agar mencintai kehidupan sosial maka diajari ilmu sosial dan begitu pula ilmu humaniora. Setelah mempelajari jenis ilmu tertentu, maka kemudian mereka mencintai, mengetahui penciptanya, mensyukuri,  dan berikut memanfaatkannya. Dengan  cara seperti itu, maka semestinya  setelah lulus dari ilmu yang dipelajarinya itu,  siapapun tidak akan mengalami kebingungan. Ilmu adalah cahaya. Maka dengan ilmu,  seseorang akan mendapatkan cahaya yang selalu  menerangi  kehidupannya.

Namun agaknya terasa aneh, setelah mereka mempelajari ilmu hingga bertahun-tahun dan berhasil dinyatakan lulus, tetapi justru tidak menyenangi ilmu yang dipelajari dan apalagi berhasil memanfaatkannya.  Semestinya, setelah mereka mempelajari ilmu alam, maka yang bersangkutan akan mencintainya dan memanfaatkan alam yang dicintainya itu. Misalnya, mereka akan bertani, beternak, atau menjadi pengusaha ikan, baik ikan laut maupun ikan darat. Semua itu dijalani atas dasar ilmu yang dicitai dan dikuasainya itu.  

Namun, setelah mengikuti  proses pendidikan yang lama, dan lulus fisika, kimia, biologi dan juga matematika, ternyata tidak semua berhasil mencintai ilmu itu dan apalagi memanfaatkannya. Bahkan setelah lulus, mereka seolah-olah belum memahami  kegunaan dari apa yang bertahun-tahun dipelajarinya itu. Persoalan ini bukan kecil dan sederhana, melainkan menjadi persoalan yang besar dan mendasar. Mestinya setelah  anak-anak lulus dari sekolah,  maka muncul kecintaan, percaya diri dan lahir semangat untuk mengembangkan ilmu dan berusaha memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajarinya itu.

Orang yang telah lama belajar ilmu alam semestinya semakin mencintai alam dan bisa memanfaatkannya. Orang yang telah belajar ilmu biologi misalnya, tetapi aneh,  mereka tidak mencintai tentang kehidupan dan apalagi memanfaatkannya. Bahkan keanehan itu menjadi semakin serius, ternyata seseorang yang telah sekian lama mempelajari ilmu pertanian, tetapi masih tidak memiliki kepedulian dan bahkan tidak percaya diri,  bahwa dengan bertani mereka bisa sukses hidupnya di bidang itu. Begitu pula bidang-bidang ilmu  lainnya.

Keanehan berikutnya, orang yang telah belajar dan lulus tentang alam, pertanian misalnya, ternyata tidak memiliki kepekaan dan apalagi memanfaatkan lingkungannya. Tanah pertanian yang subur tidak dianggap sebagai potensi yang bermanfaat. Seseorang pergi ke kota belajar ilmu pertanian, kelautan, peternakan, bisnis, dan lain-lain, setelah mereka pulang ke tanah kelahirannya di desa,  ternyata ilmu yang telah dipelajari tidak memberi apa-apa bagi pengembangan hidupnya. Bahkan  tidak jarang,  ilmunya justru menjauhkan dari  habitatnya semula.

Atas dasar kenyataan ini,  pendidikan  perlu ditinjau kembali dan bahkan diubah. Lewat pendidikan seharusnya   berhasil mengantarkan seseorang mampu menghadapi tantangan  hidup yang pasti ditemui. Tantangan itu sesuai dengan lingkungan atau keberadaannya. Mereka yang berada di lingkungan pertanian, maka harus memahami dunia pertanian dan bahkan mencintainya. Begitu pula bidang-bidang ilmu lainnya. 

Berbekalkan ilmu yang dikuasai dan dicintai, maka seharusnya mereka akan memahami Penciptanya, mensyukuri, dan  memanfaatkan ilmu dan lingkungannya itu. Selama ini,  sedemikian lama orang mempelajari alam, tetapi ternyata  setelah berhasil lulus belum mampu memanfaatkannya. Inilah problem mendasar tentang pendidikan selama ini, yang kiranya perlu segera mendapatkan perhatian dari semua pihak,  dan segera memperbaikinya. Mereka mempelajari sesuatu,  akan tetapi  secara substantif belum berhasil menguasai dan apalagi mengambil  manfaat atau keuntungan dari ilmu yang dipelajarinya. Wallahu a’lam.
Tags: Pendidikan

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.