You Are Here: Home» » Berebut Menjadi Pemimpin Di Alam Demokrasi

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Berebut menjadi pemimpin di alam demokrasi tampaknya seperti dalam kompetisi lain pada umumnya. Dalam setiap kompetisi, selalu ada saja pihak-pihak yang merasa tidak puas terhadap jalannya permainan. Biasanya pihak yang kalah, apalagi selisih kekalahan itu tidak terlalu banyak, maka kemudian menuduh pesaingnya bermain tidak jujur.



Tidak jarang dalam berkompetisi, termasuk kompetisi dalam pilkada, pihak yang kalah menyampaikan protes dan bahkan melapor ke pengadilan. Alasan yang digunakan bermacam-macam, misalnya kompetitornya tidak jujur, menggunakan politik uang, terjadi penyimpangan yang bersifat massif dan terstruktur. Bahkan kesalahan kadang juga dialamatkan kepada pihak penyelenggara, misalnya KPU dituduh melakukan penyimpangan dalam pembagian kartu undangan, penghitungan suara tidak bisa dipercaya, dan lain-lain.



Namun, jarang sekali terjadi pihak yang menang kemudian masih memprotes pihak yang kalah, sekalipun mereka melakukan penyimpangan. Protes selalu datang dari pihak yang kalah. Lalu anehnya, protes itu selalu disampaikan ketika pemilihan sudah selesai. Pada saat pemilihan berlangsung biasanya belum muncul protes. Dengan demikian, seolah-olah protes atau keberatan selalu dijadikan alat untuk meraih kemenangan atau sebagai rasionalisasi bagi pihak-pihak yang mengalami kekalahan.



Protes atau keberatan yang diajukan oleh pihak yang kalah dalam pemilukada yang terjadi di mana-mana mengingatkan kita semua terhadap kegiatan permainan yang dilakukan oleh anak-anak sewaktu masih kecil. Anak kecil manakala bermain dengan teman-tremannya dan dinyatakan kalah, maka akan merasa tidak terima. Mereka menuduh pemenangnya tidak jujur, banyak melakukan penyimpangan, dan atau tuduhan-tuduhan lainnya.



Mungkin pihak yang kalah dalam berkompetisi, termasuk kompetisi calon pemimpin, tidak mampu menanggung beban psikologis kekalahannya itu. Sejak awal, mereka tidak siap kalah. Mereka hanya mjembayangkan bahwa dirinya akan menang. Berbagai logika dan kalkulasi telah dilakukan, bahwasanya kemenangan pasti diperoleh. Sehingga, tatkala kemenangannya itu tidak terbukti, maka mereka terkejut lantaran belum menyiapkan reasoning sebab-sebab kekalahannya. Padahal reasoning kekalahan itu sangat diperlukan bagi siapapun yang sedang mengalami kekalahan.



Melihat kenyataan itu, ternyata orang dewasa pun tatkala mengikuti kompetisi atau permainan, tak ubahnya anak-anak. Mereka belum tentu siap kalah. Yang terbayangkan olehnya adalah keindahan tatkala kemenangan itu benar-benar berhasil diraih. Kekalahan dan berbagai resikonya tidak pernah tergambarkan. Kalkulasi yang dihasilkan selalu menang dan menang. Padahal kalkulasi politik tidak mudah, banyak variabel yang harus diperhitungkan. Hitungan politik tidak mudah dilakukan, apalagi bagi orang yang sudah terlalu bersemangat menang.



Rupanya mencari orang yang benar-benar dewasa dalam berkompetisi tidak mudah, termasuk juga berkompetisi menjadi pemimpin dalam pemilukada. Hal seperti itu mengakibatkan mahkamah konstitusi menjadi kebanjiran pekerjaan. Dalam pemilukada orang kalah dan kemudian protes ternyata terjadi di mana-mana. Hal itu rasa-rasanya mirip permainan yang diikuti oleh anak-anak. Tatkala kalah mereka protes bahwa lawannya curang, atau banyak melakukan penyimpangan.



Anak-anak dalam melakukan permainan dan kemudian kalah, maka boleh-boleh saja menyalahkan pihak kompetotornya. Akan tetapi manakala hal itu dilakukan oleh calon pemimpin, maka rasa-rasanya menunjukkan bahwa mereka itu belum dewasa. Sebagai calon pemimpin, mestinya sudah menyiapkan mental yang kuat, baik ketika menang ataupun sebaliknya, ketika harus kalah. Jika mental seperti itu dimiliki, maka artinya, calon pemimpin dimaksud sudah dewasa. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.