You Are Here: Home» lingkungan , politik , topnews » Fenomena teroris akan lebih mudah dijelaskan dari perspektif pertarungan


Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.
-
Banyak orang gelisah, kecewa, dan marah terhadap aksi teroris, tidak terkecuali umat Islam sendiri. Aksi teror telah dianggap oleh banyak orang sebagai kegiatan biadab. Banyak orang menderita dan bahkan mati yang disebabkan oleh para pelaku yang dianggap tidak masuk akal itu. Oleh karena itu, sebenarnya pelaku teror, sekalipun mungkin apa yang dilakukan sebagai bentuk membela agamanya,  menjadi sangat dibenci oleh siapapun, termasuk oleh umat Islam.   

Berbagai tulisan, komentar, dan  juga artikel ditulis oleh banyak orang,  mengecam dan mengutuk perbuatan kekerasan itu. Para penulis dan pemberi komentar negatif itu melihat bahwa  tidak ada dasar pembenar terhadap perilakunya itu, baik yang bersumber dari filsafat tertentu  dan bahkan juga dari ajaran agama. Logika apapun akan mengatakan  bahwa membuat kerusakan dan bahkan hingga mematikan  orang lain adalah merupakan kejahatan kemanusiaan,  oleh karena itu tidak dibolehkan.

Begitu juga ajaran agama, tidak terkecuali Islam misalnya, melarang peganutnya membuat kerusakan. Justru agama hadir adalah untuk melarang kepada siapapun melakukan kerusakan di muka bumi atau menjadikan orang lain menderita. Oleh karena itu, melakukan teror dengan berdalih untuk mengembangkan Islam, adalah perbuatan salah dan bahkan kontradiktif dengan ajaran agama  itu sendiri. 

Dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan bijaksana. Tidak boleh dakwah disampaikan dengan cara kekerasan dan bahkan sekedar memaksa. Ditegaskan dalam ajaran  Islam, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Oleh karena itu, siapapun yang memaksa mengikuti agama tertentu, maka tindakannya itu sudah melampaui batas. Ajaran agama sendiri, tidak boleh memaksa.

Berangkat dari pandangan tersebut, maka perbuatan para teroris hanya bisa  dijelaskan dari selain logika filsafat maupun  juga agama. Filsafat tidak mengajarkan tentang kekerasan, membuat kerusakan,  dan begitu juga agama. Oleh karena itu, maka pantas para agamawan mengecam dan bahkan mengutuk tindakan para teroris itu, sekalipun mungkin para pelakunya mengaku sebagai pemeluk agama tertentu.

Fenomena teroris akan lebih mudah dijelaskan dari perspektif pertarungan  global, ekonomi, sosial politik, dan mungkin juga psikologis. Disebut bahwa teroris tidak lepas dari persoalan global, terbukti bahwa fenomena itu terjadi di mana-mana di berbagai negara. Teroris dipandang terkait  dengan ekonomi oleh karena gejala itu muncul di wilayah-wilayah  yang senjang secara berlebihan. Demikian pula, teroris amat mudah dikaitkan dengan  persoalan sosial dan politik. Melakukan teror adalah cara-cara untuk merebut pengaruh oleh orang-orang yang lemah.    

Selain itu, penjelasan dari perspektif psikologis kiranya juga tidak sulit dilakukan. Para pelaku teroris yang berhasil tertangkap rupanya  adalah merupakan orang-orang yang kalah dan tersisihkan. Mereka itu tidak mau menerima kekalahan, kemudian  mencari jalan pintas untuk membuat kerusakan dan bahkan menghilangkan nyawa  orang lain. Berbagai perspektif dimaksud itulah  kiranya lebih mudah dipahami daripada melihatnya dari perspektif ajaran agama. Sebab agama selalu mengajarkan tentang kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, kebahagiaan bersama, dan sebaliknya,  bukan justru melakukan kerusakan. Wallahu a’lam.
Tags: lingkungan , politik , topnews

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.