You Are Here: Home» » Guru tidak cukup hanya mendiskripsikan sesuatu,

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Membaca tulisan Prof.Dr. Suyanto , Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta dan juga sebagai Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud di Gatra, nomor 21 tahun XVII di halaman 36 – 37 adalah sangat menarik. Tulisan itu melaporkan tentang Uji Kompetensi Awal (UKA) terhadap guru-guru yang akan memasuki proses sertifikasi. Kegiatan itu dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia, baik terhadap para guru TK, SD, SMP dan SMA.



Setelah diolah, hasil UKA yang diikuti oleh 281.016 guru di berbagai jenjangnya ini cukup mengejutkan. Rata-rata nilai yang dihasilkan dari rentang antara 1 hingga 100, hanya berada di sekitar angka 50. Di antara mereka ada yang meraih angka lebih dari 90, tetapi juga sebaliknya, ada yang hanya mendapatkan angka 1.



Melihat hasil UKA ini dapat diketahui bahwa kualitas guru di Indonesia rata-rata memang belum membanggakan. Prof. Suyanto pada tulisannya itu juga membandingkan dengan kualitas guru di Singapura, dan tentu hasilnya jauh sekali perbedaannya. Para guru di Singapura pada umumnya berkualitas lebih unggul, karena adanya berbagai fasilitas dan pembinaan yang dilakukan. Sebaliknya, hal itu di Indonesia.



Bukan untuk membela para guru, namun perlu diakui bahwa kualitas mereka yang diketahui lewat UKA itu sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dicarikan rasionalitasnya. Kesejahteraan guru dianggap lumayan cukup, adalah baru beberapa tahun terakhir ini saja, setelah diberlakukan sertifikasi. Sebelum itu, nasib guru oleh karena gaji yang diterimanya belum mencukupi kebutuhan hidup, maka tenaga dan pikiran mereka tidak saja terkuras untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Maka, sering terdengar bahwa ada guru di Indonesia yang berkerja sambilan, sebagai tukang ojek, bertani, nelayan, buruh, dan juga berdagang kecil-kecilan.



Atas keterbatasan itu maka jiwa, pikiran, dan raga mereka terkuras habis. Semua kekuatan mereka dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka sebenarnya tidak terlalu sulit memahami kualitas mereka yang pas-pasan itu. Berawal dari keterbatasan itu, mereka menjadi terbatas pula untuk mengakses perkembangan ilmu pengetahuan, informasi baru, dan bahkan membeli buku baru yang harus dibaca. Akibat lainnya,komunikasi mereka juga menjadi terbatas.



Hal lain yang mengenaskan, tidak sedikit TKW yang baru pulang dari luar negeri lebih hebat dibanding guru. Para TKW dari luar negeri tatkala pulang bisa menjadi sumber informasi, misalnya bagaimana naik pesawat terbang, bercerita tentang kota-kota besar di mana mereka bekerja, dan bahkan juga bisa berbahasa asing. Sementara itu tidak semua guru memiliki pengalaman tentang itu.



Selain itu, guru tampak kurang memiliki kebebasan sebagai akibat birokrasi yang menghimpit. Guru mestinya memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk menjadikan muridnya pintar, berperilaku dan atau berkarakter unggul. Akan tetapi oleh karena berbagai aturan yang harus diikuti, menjadikan guru terbelenggu. Guru menjadi bagaikan buruh yang harus mengikuti majikannya. Para guru itu bertugas menyampaikan isi bahan ajar dengan cara-cara yang telah dirumuskan sebelumnya di depan kelas kepada para murid-muridnya.



Guru semestinya diberi kebebasan untuk mengembangkan imajinasi, berkreasi, dan bahkan melakukan inovasi untuk mencari cara-cara sendiri, bagaimana agar tugas-tugasnya berhasil dijalankan sebaik-baiknya. Saya pernah kedatangan seorang guru, ia mengeluhkan tentang tugas-tugasnya sehari-hari yang tidak memberikan ruang berkreasi. Bahkan ketika menjelang ujian nasional, guru dimaksud mengaku bahwa tugas rutinnya sehari-hari dari kepala sekolah, adalah melatih para siswanya menjawab soal-soal ujian berbentuk pilihan berganda. Guru dimaksud menjadi merasa jenuh dan tidak betah. Tetapi apapun tugas itu harus dijalankan.



Birokrasi tidak jarang sangat mengekang kehidupan guru. Mereka harus mengikuti, oleh karena penilaian terhadap guru bukan dilihat dari buah kreatifitasnya melainkan dari sejauh mana tugas-tugas itu berhasil diselesaikan sesuai dengan aturan yang ada. Pelaksanaan aturan dan atau pedoman menjadi tolok ukur yang utama. Para birokrat sendiri mungkin berpandangan bahwa manakala pedoman dan petunjuk itu dijalankan, maka dipercaya keberhasilan akan diraih, walaupun akibatnya kreativitas guru tidak tumbuh dan sebaliknya, justru akan menjadi tumpul.



Akibat birokrasi yang kaku itu, maka pembicaraan para guru sehari-hari hanya di seputar hurikulum, persiapan mengajar, buku teks, penyerapan siswa, ujian dan sejenisnya. Perndidikan yang sebenarnya harus mendorong terjadinya kreatifitas, menemukan hal baru, dan seterusnya, menjadi tidak ditemukan di banyak sekolah. Sebaliknya yang dibicarakan adalah tentang buku paket yang kadang sudah usang, pakaian seragam, atau tentang petunjuk lain dari pemerintah. Posisi guru akhirnya persis seperti buruh yang bekerja dengan mesin. Padahal sekolah seharusnya dibedakan dari kehidupan pabrik yang dilengkapi mesin-mesin produksi dengan berbagai ukurannya.



Di zaman informasi yang semakin membanjir seperti sekarang ini, tugas-tugas guru di dalam kelas harus berubah dari puluhan tahun sebelumnya. Guru tidak cukup hanya mendiskripsikan sesuatu, menjelaskan, mengilustrasikan,dan mengajak menangkap nilai-nilai yang terkandung di dalam bahan pelajaran itu. Agar guru dan siswa menjadi semakin cerdas dan berpengetahuan luas, maka mereka harus diajak untuk secara bersama-sama mencari, menangkap, mengejar dan bahkan ikut berpartisipasi menciptakan pengetahuan baru yang semakin cepat pertumbuhannya ini.



Para guru yang sehari-hari hanya sekedar menjelaskan isi buku yang telah ditetapkan dan tidak boleh menyimpang, maka bisa jadi, akan berakibat gagal dalam mencerdaskan murid, termasuk mencerdaskan dirinya sendiri. Keadaan seperti itu kiranya bisa digunakan untuk menjelaskan, mengapa hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) para guru yang baru saja dilaksanakan hanya berada pada rata-rata angka di sekitar 50 an. Kualitas guru yang kurang menggembirakan tersebut sebenarnya bisa jadi, sebagai akibat dari birokrasi pendidikan yang dijalankan selama ini. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.