You Are Here: Home» » Kehidupan Para Ulama Dan Seluruh Keluarganya

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Pada hari Rabu tanggal 4 Juli 2012, saya diundang oleh KH. Aziz Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang dalam kegiatan Nisyfu Sya'ban yang dirangkaikan dengan kegiatan sarasehan. Dalam sarasehan itu dibahas tentang tradisi menulis sebagai bagian dari upaya pengembangan pondok pesantren.



Hadir pula dalam kesempatan itu, Prof. Nur Syam, Dirjen pendidikan Islam, dan beberapa pembicara lainnya. Dijelaskan oleh Dirjen Pendidikan Islam, betapa pentingnya tradisi menulis di pesantren. Para kyai pengasuh pesantren dulu, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasybullah, KH Mahfudz Pengasuh pesantren Tremas dan lain-lain telah meninggalkan banyak kitab yang bisa dibaca oleh generasi berikutnya.



Bahkan tidak sedikit kitab-kitab yang ditulis oleh kyai pesantren ternyata dijadikan bahan bacaan di berbagai perguruan tinggi di negara-negara Islam. Menyadari akan hal itu, beberapa tahun lalu, Kementerian Agama melakukan penelusuran dan selanjutnya, sekalipun baru dalam jumlah yang terbatas, mencetak kembali kitab-kitab yang pernah ditulis oleh para kyai dimaksud. Dari kenyataan itu menunjukkan bahwa pesantren sebenaranya telah memiliki tradisi menulis.



Pada akhir-akhir ini, tradisi tersebut tidak terlalu kelihatan berkembang lagi. Prof. Nur Syam menyebut, dari kalangan pesantren ternyata yang lebih berkembang adalah tradisi pidato atau pengajian. Dikatakan olehnya bahwa dalam hal berpidato, para santri, dan apalagi para kyai adalah jagonya. Sekalipun ceramah itu penting,akan tetapi kekurangannya adalah bahwa isi pidato selalu tidak didokumentasikan, sehingga tidak bisa dinikmati dalam waktu lama. Begitu pidato itu selesai, maka pikiran yang disampaikan akan mudah dilupakan.



KH Aziz Masyhuri, pengasuh pesantren Denanyar, Jombang, yang kebetulan sudah lama memiliki kebiasaan menulis dan banyak dipublikasikan, menginginkan agar tradisi itu dikembangkan lagi dari pesantren. Para pembicara dalam sarasehan itu diminta untuk memberikan sumbangan pemikiran, bagaimana para aktifis dan juga santri di pesantren membangkitkan kembali tradisi yang sudah lama berkembang tersebut.



Dalam kesempatan itu, saya menunjukkan tradisi menulis yang berkembang ke Iran. Di negara yang sekarang dipimpin oleh para tokoh agama itu memiliki tradisi menulis yang produknya luar biasa banyaknya. Bahkan kalau kita lihat buku-buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan di Jakarta misalnya, tidak sedikit yang merupakan terjemahan buku-buku yang ditulis oleh para ulama' Iran.



Tradisi menulis di Iran berkembang dengan baik oleh karena iklimnya berhasil ditumbuh kembangkan. Di negeri itu para penulis dihargai atau dimuliakan. Terdapat lembaga-lembaga riset dengan berbagai fasilitasnya. Saya pernah datang di Qum misalnya, di sana terdapat beberapa pusat kajian Islam. Di antara beberapa pusat kajian Islam yang saya kunjungi, disediakan berpuluh-puluh ribu kitab dan juga para ulama yang sehari-hari mengkaji dan melakukan penulisan.



Kehidupan para ulama dan seluruh keluarganya ditanggung oleh lembaga keagamaan. Mereka tidak memiliki beban lagi untuk mengurus kebutuhan hidup sehari-hari. Dana itu, menurut informasi, diambilkan dari khumus, yakni dana sosial yang dibayarkan dari kaum muslimin. Masyarakat Syi'ah di Iran telah mampu membangun kedisiplinan dalam membayar khumus ini. Itulah sebabnya, tradisi menulis itu tumbuh dan dibanggakan. Bahkan kota Qum, oleh karena di sana banyak ulama dan karya-karyanya itu, maka dikenal sebagai kota ilmu.



Dalam kesempatan itu, saya mengatakan bahwa sebenarnya di Indonesia, termasuk di pesantren, telah banyak ulama yang mampu menulis. Hanya saja iklim dan fasilitas untuk melakukan kegiatan itu masih menjadi kendala. Bahyak para kyai sehari-hari masih terbebani oleh berbagai kegiatan lain, seperti persoalan ekonomi, dan bahkan juga politik. Suasana atau iklim yang kurang terlalu fokus pada ilmu seperti itu menjadikan produk atau karya-karya keilmuannya kurang maksimal.



Oleh karenanya, dalam kesempatan itu, saya mengatakan bahwa pesantren, sekalipun bertahap, perlu melengkapi fasilitasnya dengan perpustakaan, melatih para santri untuk melakukan kajian-kajian atau riset dan yang tidak kurang pentingnya lagi adalah memberikan penghargaan kepada mereka yang berhasil menulis. Saya juga menyampaikan kepada Dirjen Pendidikan Islam yang kebetulan hadir pada saat itu, pemerintah perlu membantu untuk pengadaan literatur dan bahkan juga perpustakaan di pesantren-pesantren. Jika hal itu dikembangkan, maka insya Allah, keinginan mengembangkan tradisi menulis di pesantren akan tumbuh. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.