You Are Here: Home» Pendidikan » Kepustakaan : Akses Terbuka untuk Jurnal Ilmiah


Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.
-

Kepustakaan di Indonesia sudah saatnya memasuki era akses terbuka untuk meningkatkan akses keterbacaan literatur/jurnal kepustakaan. Pemustaka�mereka yang mengakses kepustakaan�saat ini didominasi generasi milenial yang sangat lekat dengan dunia digital.
�Pemustaka milenial ini menjadi kelompok utama pemustaka. Mereka memiliki kebutuhan atau minat informasi yang spesifik sehingga memerlukan pelayanan spesifik pula,� kata Rosa Widyawan, pustakawan senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam lokakarya bertema �Transformasi Kepustakawanan Indonesia dalam Era Akses Terbuka�, Rabu (5/9), di Jakarta.
Untuk menghadapi masalah ini, pustakawan sebagai kunci penting pelayanan informasi perlu mengasah kompetensi mereka di bidang teknologi. Jika kompetensi ini tidak ditingkatkan, akan terjadi friksi di bidang kepustakaan.
�Akan terbentuk �jurang� antara pemustaka dan pustakawan sehingga bisa jadi kepustakaan di Indonesia tidak banyak diakses generasi sekarang,� lanjut Rosa.
Jurang ini terjadi karena ada perbedaan pemahaman soal teknologi yang mencolok antara pemustaka dan pustakawan. Pemustaka masa depan sejak kecil dikelilingi teknologi sehingga sudah piawai dalam memanfaatkan teknologi komunikasi dan komputer. Sementara pustakawan, yang rata-rata usianya sudah paruh baya, masih gagap teknologi sehingga kurang maksimal memberikan pelayanan.
Sesuaikan kurikukum
Untuk meningkatkan kompetensi pustakawan, sekolah perpustakaan perlu menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan terkini. Oleh karena itu, kata Rosa, penting melibatkan pustakawan dalam penyusunan kurikulum nasional.
Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, akses terbuka punya banyak kelebihan. Namun, masyarakat perlu mempertimbangkan hak kekayaan intelektual, kepengarangan, dan aspek etika dari jurnal yang diunggah di internet. �Jangan sampai pelanggaran terhadap ketiga hal itu menghambat perkembangan jurnal akses terbuka,� paparnya.
Pada tahun 2012, LIPI yang mengelola jurnal sejak tahun 1977 membuat akses terbuka untuk koleksi jurnalnya, yang sudah bisa di akses di http://isjd.pdii.lipi.go.id. Akses itu membuka 300 jurnal yang sudah terakreditasi LIPI dan 250 jurnal yang terakreditasi Direktorat Pendidikan Tinggi. (IND)

» Sumber : Kompas, 6 September 2012


Tags: Pendidikan

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.