You Are Here: Home» » Ketika Seseorang Berkeinginan Naik Haji

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Ibadah haji adalah menunaikan rukun Islam yang ke lima, yaitu wukuf di Arafah dan berbagai kegiatan lain sebagai penyempurnanya. Sebutan haji, terutama dikaitkan dengan sumber pembiayaannya, menjadi bermacam-macam. Ada istilah haji biasa, haji plus, haji abidin, haji mertua, haji cicilan, dan yang saya temukan terakhir ini adalah haji sengon.



Istilah-istilah yang sudah sedemikian banyak jenisnya itu, kiranya sudah dipahami oleh banyak orang. Pada tulisan ini, saya hanya ingin menjelaskan istilah haji sengon. Barangkali iatilah itu ada yang tertarik, dan kemudian menirunya. Disebut sebagai haji sengon, oleh karena, biaya haji itu diperoleh dari menjual kayu sengon miliknya. Konsep itu sederhana sekali, tetapi tidak banyak orang yang memperhatikan, dan apalagi mencoba melakukannya.



Beberapa bulan lalu, ketika diajak berdialog di TVRI Jakarta oleh Prof.Dr. Haryono Suyono dan juga bersama Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, membahas tentang Posyada, saya mengajukan ide sederhana, yang sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat pedesaan. Untuk menumbuhkan semangat beragama dan sekaligus ekonomi masyarakat, saya mengajak masyarakat untuk berencana naik haji dengan biaya dari hasil menanam pohon. Saya kemukakan bahwa, umat Islam harus menunaikan ibadah haji. Biaya ibadah itu mahal, akan tetapi menjadi murah jika mengetahui caranya.



Ketika itu, saya menjelaskan bahwa harga sebatang pohon mahuni atau sengon yang berusia 10 tahun bisa mencapai tujuh setengah juta rupiah. Oleh karena itu, manakala seorang petani sekarang ini menanam 10 batang saja, maka 10 tahun ke depan akan mendapatkan uang sekitar 75 juta. Apalagi kalau mereka mau menambah hingga 20 batang, maka sepuluh tahun ke depan akan memiliki uang 150 juta. Hasil penjualan pohon itu bisa digunakan untuk naik haji dua orang, dan bahkan lebih.



Atas dasar hitungan itu, ketika seseorang berkeinginan naik haji, maka biayanya bisa didapat dari menanam 10 hingga 20 batang pohon mauni atau sengon. Insya Allah, 10 tahun ke depan niat itu akan terlaksana. Gambaran itu terasa mudah, hingga banyak orang justru tidak percaya terhadap ide itu. Padahal sekarang ini, siapapun yang memiliki pohon mauni atau sengon dalam jumlah tertentu, maka bisa membayar ongkos haji. Sayangnya, sepuluh tahun yang lalu banyak orang tidak menanam, hingga sekarang ini tidak memiliki pohon yang bisa dijual. Umpama sekarang juga tidak menanam lagi, maka 10 tahun ke depan masih sama, belum memiliki uang untuk biaya haji.



Beberapa hari lalu, saya datang ke sebuah kampung, kebetulan ketemu orang yang saya kenal dengan baik. Orang tersebut, sekalipun sudah sangat tua, menyampaikan keinginannya akan naik haji. Atas penjelasan itu, selain gembira, saya agak kaget tatkala diberi tahu, bahwa uang yang akan digunakan untuk melunasi hajinya itu diperoleh dari menjual kayu sengon yang ditanam 10 tahun yang lalu. Ia menjelaskan bahwa sekarang ini harga sengon yang sudah berumur sekitar 10 tahun bisa mencapai 7, 5 juta. Maka siapapun yang punya 10 batang saja sudah cukup untuk membayar ongkos haji.



Penjelasan petani tua yang hidup di pedesaan tersebut mengingatkan saya sendiri tentang apa yang saya jelaskan pada acara dialog bersama Prof. Dr. Haryono Suyono bersama Fauzi Bowo pada acara di TVRI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Penjelasan itu, tentu menyenangkan sekali, bahwa ternyata apa yang saya angan-angan dan jelaskan lewat dialog tersebut telah ada orang yang benar-benar megimplemantasikannya.



Selain itu, dari penjelasan orang tua tersebut, saya menjadi semakin yakin bahwa sebenarnya mengembangkan ekonomi di pedesaan tidak sulit dilakukan. Asalkan mau saja, dengan memanfaatkan tanah-tanah kosong, miliknya sendiri atau bekerjasama dengan pemilik tanah, atau bahkan dengan pihak kehutanan, maka usaha itu bisa dilakukan. Sayangnya usaha sederhana itu tidak banyak dilakukan orang, sehingga tidak sedikit tanah di berbagai daerah menganggur dan tidak menghasilkan apa-apa.



Konsep sederhana tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh setiap orang. Pada saat ini, juga sudah mulai dikembangkan di Malang selatan. Bahkan, sudah ada petani yang mencoba dan berhasil. Oleh karena itu, saya menjadi semakin yakin bahwa mengembangkan ekonomi di pedesaan, termasuk mencukupi ongkos naik haji, sebenarnya tidak sulit. Sehingga bisa-bisa nanti, banyak orang disebut sebagai haji sengon, karena mereka berhaji dari hasil menanam sengon. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.