You Are Here: Home» Pendidikan » Menentukan pilihan fakultas , jurusan di perguruan tinggi


Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
  1. Isi artikel, berita dan materi www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
  2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
  3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
  4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
  5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.
-
Semestinya ketika menentukan pilihan  fakultas dan jurusan di perguruan tinggi, seorang mahasiswa  sudah tahu dan menyadari akan ilmu dan keahlian yang diinginkan di masa depan. Sejak pilihan faklultas dan jurusan itu ditetapkan maka semestinya sudah tergambar dengan jelas, setelah lulus yang bersangkutan akan  berharap menjadi ahli  di bidang apa,  bekerja sebagai apa, posisi apa yang diinginkan kelak tatkala sudah menjadi seorang sarjana,  dan seterusnya.

Gambaran itu penting dirumuskan, agar mahasiswa yang bersangkutan bisa merencanakan jenis kegiatan yang seharusnya dilakukan untuk memperkaya diri dengan  pengetahuan, wawasan,  dan  keahlian yang diperlukan sebagaimana peran-peran yang dicita-citakan itu. Tatkala seorang mahasiswa memilih jurusaan fakultas ekonomi, jurusan managemen  misalnya, mereka harus sudah tahu bahwa kelak akan dituntut oleh masyarakat memiliki keahlian di bidang manajemen.

Begitu selanjutnya, ketika seseorang  mengambil kuliah di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, maka tuntutan itu bertambah, yaitu  bersangkutan dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup tentang Islam.  Mereka  harus mampu memahami al Qur’an dan hadits nabi, memiliki kemampuan memimpin kegiatan yang terkait dengan agama Islam di tengah-tengah masyarakat.  Tuntutan itu datang dari masyarakat dan  tidak akan bisa dielakkan.  Masyarakat selalu memiliki konsep ideal tentang sarjana lulusan perguruan tinggi tertentu dengan berbagai fakultas atau bidang studinya.   

Pada umumnya, tuntutan dan harapan masyarakat itu sedemikian tinggi.  Para sarjana dimaksud diharapkan mampu  menyesuaikannya. Oleh karena itu,  siapapun yang belajar di perguruan tinggi, akan selalu menghadapi dua tuntutan yang datang dari pihak sekaligus. Pihak pertama adalah berasal dari perguruan tinggi yang bersangkutan,  dan yang kedua adalah dari masyarakat luas. Tuntutan yang datang dari perguruan tinggi yang bersangkutan berupa, mahasiswa diharuskan mempelajari berbagai literatur dan menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan. Ukuran keberhasilannya akan dilihat dari kemampuan yang bersangkutan dalam  menghadapi ujian dan tugas-tugas lain yang dibebankan kepadanya.

Sedangkan ujian berikutnya, yaitu yang  berasal dari  masyarakat, biasanya  justru  jauh lebih berat.  Ujian yang berasal dari masyarakat tidak ada batasnya, baik terkait dengan materi yang harus dikuasai,  maupun  waktu  datangnya ujian itu. Penyandang identitas sebagai sarjana ekonomi Universitas Islam Negeri Malang, oleh masyarakat dituntut  mampu menyelesaikan problem-problem ekonomi baik yang bersifat elermenter dalam kehudupan sehari-hari maupun yang bersifat konseptual untuk menjawab persoalan yang lebih luas dan mendasar. Lulus  dalam ujian yang datang dari masyarakat biasanya menjadi modal bagi seseorang mendapatkan kepercayaan yang  sangat mahal harganya.

Mengetahui tantangan yang akan dihadapi seperti yang digambarkan di muka, mestinya mahasiswa,  sehari-hari berusaha melakukan kegiatan, untuk membekali diri  dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh kampus atau perguruan tingginya. Adapun yang dimaksud dengan fasilitas kampus adalah semua hal  yang  bisa dimanfaatkan untuk membekali diri itu, misalnya berupa dosen, perpustakaan, laboratorium, perkuliahan,  dan bahkan juga iklim atau lingkungan akademik. Semua itu adalah fasilitas yang seharusnya dimanfaatkan seluas-luasnya bagi mahasiswa yang belajar di kampus itu.  

Belajar di perguruan tinggi berbeda dengan belajar di jenjang pendidikan sebelumnya. Studi di perguruan tinggi,  oleh karena dari sisi umur para mahasiswa  dianggap sudah dewasa,  mampu  mandiri,  bisa  merencanakan dan mengatur dirinya sendiri,  bertanggung jawab, paham akan tugas dan tuntutan terhadap dirinya di masa depan,  maka mereka  diberikan kebebasan, keterbukaan, dan bahkan juga keberanian untuk memilih alternatif  terbaik  sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal seperti itu tidak akan diberikan kepada siswa pada jenjang pendidikan sebelumnya. Perguruan tinggi cukup memberikan ukuran dan atau standar yang harus dipenuhi dan diraih oleh seseorang hingga yang bersangkutan layak dinyatakan lulus pada jenjang-jenjang  tertentu.    

Pemahaman seperti itu menjadi penting, agar para mahasiswa yang kelak akan menghadapi tuntutan seperti digambarkan  di muka, akan tetap memiliki kesadaran, semangat, dan cara-cara strategis di dalam membekali dirinya. Belajar di perguruan tinggi semestinya tidak saja sekedar ingin dinyatakan lulus,  memperoleh ijazah,  dan diwisuda, melainkan adalah agar memiliki kemampuan yang cukup hingga pantas disebut sebagai seorang sarjana yang kelak akan memiliki tanggung jawab dan peran untuk menyelesaikan problem-problem masyarakat yang terkait dengan keilmuan yang disandangnya. Lebih dari itu, sebagai seorang sarjana muslim yang haus ilmu, maka apa saja yang dilakukan,  seharusnya selalu berorientasi untuk  menangkap dan mendapatkan cahaya dari ilmu yang diperolehnya. Manakala target seperti itu yang diharapkan, maka artinya mahasiswa telah mampu merumuskan masa depannya. Wallahu a’lam.
Tags: Pendidikan

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.