You Are Here: Home» » Negara Yang Mengarah Pada Kegagalan

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Akhir-akhir ini sementara pemimpin bangsa merasa gundah oleh karena disebut sebagai negara yang mengarah pada kegagalan. Lembaga yang memberikan predikat itu tidak saja mensurvey Indonesia tetapi juga negara-negara lainnya. Namun Indonesia masuk kategori yang memprihatinkan, sehingga agaknya penilaian itu dirasakan mengganggu.



Sudah barang tentu, lembaga yang menurvey itu menggunakan indikator tertentu yang juga dikemukakan secara terbuka. Oleh karena itu, manakala ukuran-ukuran yang digunakannya itu diubah bisa jadi kesimpulannya juga berubah. Bahkan, umpama wilayah surveinya diperluas, atau dikurangi hasilnya bisa jadi lebih parah dan atau sebaliknya, tidak terlalu menggelisahkan.



Siapapun ketika dinilai orang lain, dan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka pantas saja tersinggung. Oleh karena itu, tidak semua orang menyukai untuk dinilai, apalagi dengan ukuran-ukuran yang dianggap bersifat tendensius, yakni dimungkinkan hasilnya akan merendahkan harkat dan martabat pihak yang dinilai.



Hasil survey yang dilakukan oleh the Faund For Peace itu oleh sementara orang lainnya, yaitu oleh mereka yang tidak berkepentingan, dianggap tepat, dan bahkan banyak kegunaannya. Atas dasar survey itu maka pemerintah dan bangsa ini secara keseluruhan telah mendapatkan peringatan, agar selanjutnya bisa melakukan langkah-langkah perbaikan.



Apapun hasil survey itu, peringatan itu sebenarnya sudah sedemikian banyak. Terjadinya konflik, tawuran, saling-serang menyerang di antara kelompok, etnis, agama, dan lain-lain yang terjadi di mana-mana sebenarnya menggambarkan bahwa bangsa ini perlu waspada. Demikian pula terbongkarnya korupsi yang dilakukan secara meluas dan berskala besar, baik di kalangan legislatif, eksekutif dan yudikatif, pengusaha, perbankan, dan bahkan semua rumah tahanan dan penjara di negeri ini semakin penuh sesak, itu semua menggambarkan bahwa bangsa dan negara ini perlu berbenah.



Memang dari tinjauan ekonomi, prestasi bangsa ini meningkat. Akan tetapi apa artinya peningkatan ekonomi itu jika ternyata kesenjangan sosial masih melebar, rasa tidak aman masih belum tercipta, konflik masih terjadi di mana-mana, kualitas pendidikan belum berhasil ditingkatkan, perilaku pimpinan yang masih korup, banyak kebohongan, manipulasi apa saja terjadi di mana-mana, dan lain-lain.



Tugas negara adalah mensejahterakan semua rakyatnya, menciptakan rasa aman dan adil, menjaga persatuan, dan ancaman dari manapun datangnya. Manakala semua itu terwujud, maka tugas negara dianggap sukses. Ukuran itu mestinya bisa dilihat dari berbagai aspek secara menyeluruh, yaitu dari aspek idial, struktural, dan operasionalnya.



Ukuran idealnya, bangsa ini telah memiliki dasar negara yang kokoh, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Secara struktural, bangsa ini memiliki pemerintahan dan lembaga-lembaga negara dengan pembagian tugas dan kewenangannya masing-masing, dan secara operasional dijalankan melalui mekanisme yang telah diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Manakala semua itu dijalankan, maka akan menghasilkan tatanan kehidupan yang dicita-citakan.



Namun sebenarnya, pada tataran implementasi semua itu tergantung pada orang-orang yang menjalankan sistem itu. Orang-orang dimaksud tidak cukup berbekal ilmu dan profesionalitas, tetapi kelebihan itu harus disempurnakan dengan sifat-sifat yang mulia, --------jika meniru nabi, maka harus memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Sifat-sifat mulia itu rasanya belum berhasil dibentuk, termasuk oleh lembaga pendidikan yang selama ini dikembangkan, hingga kalau tidak mendapatkan perhatian, maka negara ini benar-benar akan gagal. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.