You Are Here: Home» » Semangat Orang Agar Berhasil Meraih Derajat

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Begitu besar semangat orang agar berhasil meraih derajat yang mulia. Mereka mencari harta, jabatan, dan bahkan juga pendidikan dengan maksud agar dirinya dihargai dan dihormati orang lain. Demikian pula, orang membangun rumah yang bagus, berpakaian yang baik dan indah, bertutur kata yang tepat, semua itu lagi-lagi adalah, agar yang bersangkutan dianggap bermartabat.



Akan tetapi ternyata tidak semua orang sadar bahwa harga diri, derajat, prestise dan semacamnya itu perlu dipelihara secara terus menerus dan dijaga sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini rumah tahanan dan penjara semakin penuh. Pada setiap hari terdengar orang tertangkap basah oleh karena menyuap, korupsi, menyalah gunakan wewenang dan seterusnya, dan kemudian dipenjara, adalah oleh karena yang bersangkutan tidak mampu memelihara dan atau mejaga harga dirinya sendiri.



Orang yang tidak mampu menjaga diri hingga dipenjara itu tidak selalu berpendidikan dan berjabatan rendah, kurang pengalaman, tidak mengerti nilai dan atau norma-norma kehidupan yang harus dipegangi, melainkan justrui sebaliknya. Tidak sedikit sarjana, pejabat pemerintah, pimpinan bank, BUMN, jaksa, hakim dan lain-lain terlibat kasus-kasus korupsi, nepotisme, dan manipulasi yang akhirnya dipenjara.



Melihat kenyataan itu semua, memelihara harga diri ternyata bukan hal mudah. Tidak semua orang yang berhasil mendapatkan jabatan dan pendidikan tinggi bahkan agamawan sekalipun selalu mampu menjaga harga diri. Kemampuan menjaga diri tidak cukup berbekalkan ilmu dan pengalaman, melainkan semua itu harus disempurnakan dengan kejernihan dan kesucian hati. Seseorang yang hatinya bersih akan bisa menjaga harga dirinya. Oleh karena itu, kecerdasan intelektual harus disempurnakan oleh kecerdasan hati nurani.



Rupanya kecerdasan nurani ini tidak selalu mendapatkan perhatian. Lembaga pendidikan pada umumnya, selama ini baru mengedepankan kecerdasan intelektual. Sehari-hari para siswa di sekolah dan mahasiswa di kampus-kampus hanya diajak mempertajam kecerdasan intelektualnya. Sementara itu, upaya mencerdaskan hati nurani tidak selalu memperoleh perhatian yang cukup. Padahal kecerdasan intelektual tanpa dibarengi oleh kecerdasan hati nurani, akan melahirkan penyimpangan perilaku, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi dan lain-lain sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini.



Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu diikutu oleh kecerdasan hati nurani dapat dibuktikan dengan mudah lewat kasus-kasus penyimpangan perilaku yang sedemikian mudah bisa disaksikan pada akhir-akhir ini. Para koruptor pada umumnya adalah lulusan lembaga pendidikan, dan bahkan adalah lembaga pendidikan yang disebut berkualitas. Lebih dari itu, penyimpangan sosial itu juga terjadi di kalangan lembaga pendidikan itu sendiri. Terjadinya sontek menyontek, manipulasi dokumen raporr, ijazah palsu, dan bahkan juga kegiatan plagiat karya tulis orang lain, semua itu adalah bukti bahwa di lembaga pendidikan pun juga terjadi ketumpulan hati nurani yang berakibat menjatuhkan harkat dan martabat yang bersangkutan.



Atas kenyataan itu, maka menjaga harkat martabat diri sendiri ternyata tidak mudah. Usaha itu memerlukan kecerdasan hati nurani. Hati nurani harus selalu diasah dengan berbagai cara, yaitu di antaranya lewat selalu mengingat Allah pada setiap waktu, membersihkan pikiran, hati dan harta kekayaan yang dimiliki, menjalankan kegiatan ritual secara istiqamah dan semacamnya. Kegiatan seperti itu semestinya harus dilatih dan dibiasakan sebagaimana kegiatan untuk mempertajam kecerdasan intelektual.



Namun rupanya, aspek yang sebenarnya justru penting untuk menjaga harkat dan martabat seseoprang ini seringkali dilupakan dan bahkan diabaikan. Akibatnya, semua yang telah diraih dengan susah payah, seperti pendidikan, harta kekayaan, pangkat, jabatan, dan lain-lain menjadi runtuh oleh karena ketumpulan hati nurani yang bersangkutan. Artinya, mereka tidak mampu menjaga martabat harga dirinya itu. Oleh karena itu, maka kecerdasan intelektual harus selalu dibarengi oleh kecerdasan hati nurani. Wallahu a'lam.

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.