You Are Here: Home» » siapap sebenarnya pendidik sejati itu

To: Pembaca abajadun di manapun berada Dengan ini saya menyampaikan beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai selesai ya ?

Message:
Suatu ketika, saya pernah ditanya, siapap sebenarnya pendidik sejati itu. Maka, segera saya jawab, bahwa pendidik sejati itu adalah Muhammad saw. Ia diutus oleh Allah ke muka bumi untuk mendidik manusia. Utusan Allah ini hidup 14 abad yang lalu, di Makkah dan kemudian hijrah ke Madinah. Sebagai utusan Allah, ia mendapatkan amanah untuk mendidik manusia di jagad raya ini. Berbekalkan kitab suci al Qur'an, dengan sifat-sifatnya yang mulia, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, mampu mengubah bangsa Arab jahiliyah menjadi bangsa yang berperadaban tinggi.



Berbekalkan petunjuk Allah berupa al Qur'an, pendidik sejati ini memberikan nasehat, peringatan, penjelasan, dan sekaligus uswah hasanah. Al Qur'an diturunkan kepadanya secara bertahap, kemudian disampaikan kepada para sahabatnya, lalu kemudian dijalankan dalam tindakan nyata sehari-hari. Pada ketika itu, para sahabat dan juga umatnya mendapatkan petunjuk, berupa ayat-ayat al Qur'an lewat rasul, dan sekaligus contoh berupa kehidupan nyata sehari-hari yang ditunjukkan olehnya.



Setiap ayat al Qur;an turun kemudian disampaikan kepada para sahabatnya dan selanjutnya dicatat. Tugas catat mencatat dilakukan oleh para sahabat, dan juga sekaligus sebagian menghafalkannya. Melalui metode seperti itu, maka al Qur'an menjadi kitab suci yang otentik dan tidak pernah mengalami kekurangan sedikitpun, dan juga tidak akan ditambah-tambah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Melalui cara seperti itu pula, maka al Qur'an hingga sekarang, di mana-mana, memiliki bentuk atau susunan yang sama, mulai dari awal hingga akhir.



Kitab suci Al Qur'an pada saat sekarang ini semakin mudah diperoleh, dan bahkan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, -------termasuk bahasa Indonesia, sehingga mudah dipahami oleh siapapun. Oleh karena itu, manakala kitab suci al Qur'an dijadikan pilihan dalam menjalankan pengajaran dan pendidikan, hingga sekarang pun dengan mudah dapat dilakukan. Al Qur'an sejak zaman nabi ternyata berhasil digunakan untuk mengubah peradaban umat manusia. Kitab suci ini ditururunkan ke muka bumi memang adalah agar dijadikan sebagai petunjuk, penjelas, pembeda antara yang benar dan yang salah, atau antara yang hak dan yang bathil, sebagai rakhmat, dan bahkan juga sebagai ashifa'.



Di tengah-tengah kegalauan bangsa ini, utamanya terkait dengan pendidikan, ------benyaknya kurupsi, manipulasi, nepotisme, kolusi, penyimpangan sosial yang sedemikian jauh dari etika yang seharusnya dipegangi, maka semestinya kaum muslimin kembali kepada ajaran yang berasal dari Tuhan, Pencipta, dan Pemilik jagad raya, termasuk kehidupan ini. Kitab suci yang nyata-nyata telah berhasil digunakan untuk mengubah masyarakat jahiliyah menjadi berperadaban tinggi, seharusnya dijadikan pegagangan sepenuhnya dalam mendidik bangsa ini. Mendidik tanpa mengacu dan mendasarkan pada kitab suci, hasilnya selalu akan sia-sia.



Rasulullah sudah wafat sekian lama. Secara fisik, rasulullah sudah tidak mungkin lagi memberikan pendidikan kepada umat manusia secara langsung. Akan tetapi, al Qur'an yang diterima dari Allah melalui Malaikat Jibril, secara sempurna, masih bisa dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh siapapun di mana saja berada, termasuk sejarah kehidupan nabi telah didokumentasikan oleh para penulis-penulis yang mencintai kehidupannya. Selain itu, ucapan, perbuatan, dan apa saja yang diijinkan olehnya, telah diabadikan dengan berbagai cara, dan bahkan juga dihafalkan oleh banyak orang, yang semua itu menjadi bahan pelajaran bagi umat manusia yang mau menggunakannya.



Ajaran nabi ini diteruskan oleh para sahabat, mengikut, dan para ulama, secara smbung menyambung dari waktu ke waktu, zaman ke zaman, dan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka itu disebut sebagai pewaris nabi. Oleh karena itu, sekalipun Nabi sudah lama meninggalkan umatnya, wafat sejak belasan abad yang lalu, tetapi jiwa atau ruh ajarannya masih dihidupkan oleh para pewarisnya, ialah para ulama' dan umatnya dari waktu ke waktu atau dari zaman ke zaman.



Peringatan hari pendidikan seperti ini, semestinya bangsa yang sedang mendapatkan tantangan berat terkait dengan pendidikan, tepat dijadikan momentum untuk mengingat kembali terhadap pendidik sejati, yaitu Muhammad saw. Utusan Allah ini telah sukses dalam mendidik umatnya. Nabi menganggap penting dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan. Utusan Allah ini dalam mendidik mengarahkan kepada kemuliaan Akhlak. Bahkan tugas utama kenabian adalah memuliakan akhlak ini. Akhlak mulia dipandang sebagai kunci keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, baik ekonomi, politik, sosial, hukum dalam seterusnya. Jika akhlak masyarakat menjadi baik, maka semua kehidupan lainnya akan mengikutinya, dan begitu pula sebaliknya.



Akhir-akhir ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, memandang betapa pentingnya pendidikan karakter. Konsep yang dimaksudkan itu kiranya adalah pendidikan akhlak mulia itu. Mencermati kebijakan itu, banyak orang kemudian sibuk berseminar, diskusi, workshop, dan kegiatan lainnya yang terkait dengan pendidikan karakter itu. Bahkan para penulis di bidang pendidikan, kemudian menulis berbagai buku, yang terkait dengan kebijakan itu. Padahal sebenarnya, petunjuk dan pedoman itu sudah tersedia, yaitu berupa al Qur'an dan hadis nabi dan sejarah hidupnya.



Umpama saja atas dasar kebijakan menteri itu, kemudian para pejabat dan staf, para guru dan atau pelaksana pendidikan lainnya mengajak para siswa dan generasi muda untuk mendekatkan diri pada kitab suci, tempat ibadah, dan ulama atau ilmuwannya, maka kebijakan tersebut sebenarnya terlaksana. Sebagai umat Islam misalnya, tatkala mereka telah mendekatkan diri pada al Qur'an, masjid, dan para ulama'nya, maka apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter oleh menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut telah berhasil diwujudkan. Selain itu, kegiatan dimaksud sebenarnya telah sejalan dengan petunjuk sang pendidik sejati. Wallahu a'la

Tags:

0 komentar

Leave a Reply

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.